Friday, March 29, 2013

BAB IV LINGKUNGAN HIDUP SK : 3. Menganalisis Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup KD : 3.1. Mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan 3.2. Menganalisis pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan A.Lingkungan Hidup 1. Pengertian Lingkungan Hidup Menurut Ahmad (1987) lingkungan hidup adalah sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem. Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Sifat lingkungan hidup ditentukan beberapa faktor, yaitu : a. Jenis dan jumlah masing-masing unsur lingkungan hidup; b. Hubungan atau interaksi antar unsur dalam lingkungan hidup; c. Kondisi unsur lingkungan hidup; d. Faktor fisik, misalnya suhu, cahaya, dan suara keras. Lingkungan hidup juga bisa dilihat dari aspek biologi, fisik, manusia, dan sosial. a. Dari aspek biologi, lingkungan biologi merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang berupa organisme hidup, yaitu hewan dan tumbuhan. b. Lingkungan fisik manusia merupakan lingkungan alam yang mengelilingi atau berada di sekitar manusia. Lingkungan ini meliputi faktor iklim, bentuk lahan (seperti dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan), tanah, perairan (seperti sungai, danau, mata air, rawa, dan laut), vegetasi (seperti hutan, padang rumput, flora, dan gurun), mineral tambang. c. Lingkungan sosial merupakan lingkungan manusia dalam masyarakat yang berada di sekitarnya, misalnya tetangga, teman sekerja, dan orang lain. 2. Unsur-unsur Lingkungan Hidup Secara umum, unsur lingkungan dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. a. Lingkungan Biotik Lingkungan biotik (lingkungan organik) merupakan komponen makhluk hidup yang menghuni planet bumi, terdiri atas mikroorganisme, seperti bakteri dan virus, tumbuhan, hewan, dan manusia. Secara khusus, lingkungan biotik diklasifikasikan menjadi: 1) Produsen, dalam hal ini tumbuhan yang memproduksi sumber bahan makanan bagi makhluk hidup lainnya; 2) Konsumen, yaitu hewan serta manusia; dan 3) Pengurai, yang merupakan mikroorganisme yang merombak dan menghancurkan sisa-sisa organisme yang telah mati. Termasuk ke dalam kelompok pengurai adalah jamur, bakteri, dan cacing tanah. b. Lingkungan Abiotik Lingkungan abiotik merupakan kondisi yang terdapat di sekeliling makhluk hidup berupa benda mati (unsur anorganik), seperti tanah, air, mineral, sinar matahari, dan udara. Lingkungan abiotik dinamakan juga lingkungan anorganik. Dalam sudut pandang ekologi manusia, yaitu ilmu yang mempelajari dan menganalisis hubungan timbal balik (interaksi dan interelasi) antara manusia dan lingkungannya, unsur lingkungan hidup itu dibedakan atas tiga kelompok utama, yaitu lingkungan alam (lingkungan fisik), sosial, dan budaya. a. Lingkungan alam merupakan kondisi alamiah suatu wilayah yang meliputi kondisi iklim, tanah, fisiografi, dan batuan. b. Lingkungan sosial adalah manusia dengan semua aktivitas dan karakternya, baik sebagai individu atau pribadi maupun makhluk sosial. c. Lingkungan budaya adalah benda-benda hasil daya cipta manusia, seperti bangunan, karya seni, sistem kepercayaan, dan tatanan kelembagaan sosial. Dalam kenyataan sehari-hari, ketiga unsur lingkungan hidup tersebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi memiliki keterkaitan dalam bentuk interaksi dan interelasi antara satu komponen dan komponen lainnya. Perubahan yang terjadi pada suatu komponen dampaknya akan dirasakan oleh komponen lain. Lingkungan hidup baik faktor biotik maupun abiotik berpengaruh dan dipengaruhi manusia. Segala yang ada pada lingkungan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia karena lingkungan memiliki daya dukung. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi. Menurut Prof. Dr. I. Sapardi, faktor-faktor yang memengaruhi lingkungan hidup berkaitan dengan kemampuan daya dukung lingkungan adalah sebagai berikut. a. Faktor Geografi 1)Iklim, merupakan faktor yang memengaruhi aktivitas manusia dalam lingkungannya. Iklim yang ekstrim dapat menjadi pembatas bagi aktivitas manusia. 2)Perubahan cuaca, merupakan faktor yang di satu sisi suhu yang ekstrim dapat menjadi pembatas bagi manusia, sedangkan di sisi lain suhu yang beragam dapat membuat manusia menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam mengatasi perubahan-perubahan tersebut. 3)Kesuburan tanah, merupakan faktor yang cukup berpengaruh terutama bagi daerah agraris, karena dengan tanah yang subur sebagai daya dukung lingkungan tersebut nilainya jauh lebih tinggi daripada daerah yang kurang subur. 4)Erosi,merupakan faktor yang dapat mengurangi daya dukung lingkungan. b. Faktor Sosial Budaya 1)Tingkat ilmu yang dimiliki oleh masyarakat dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup bagi manusia. 2)Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat dapat meningkatkan nilai daya dukung lingkungan. 3)Tingkat teknologi yang dimiliki oleh masyarakat dapat meningkatkan dan menurunkan nilai daya dukung lingkungan. 4)Perilaku manusia dapat meningkatkan nilai daya dukung dari lingkungan. 3.Manfaat Lingkungan bagi Kehidupan Lingkungan hidup dengan segala sumberdayanya dimanfaatkan sebagai modal pembangunan. Secara umum beberapa manfaat lingkungan hidup bagi manusia antara lain sebagai berikut. a.Ruang muka bumi sebagai tempat berpijak dan beraktivitas sehari-hari. b.Tanah dapat dijadikan areal lahan untuk kegiatan ekonomi, seperti lahan pertanian, perkebunan, dan peternakan, aktivitas sosial lainnya. c.Unsur udara (oksigen) sangat bermanfaat untuk bernafas manusia dan hewan. d.Komponen hewan dan tumbuhan merupakan sumber bahan makanan bagi manusia. e.Sumberdaya alam yang terkandung dalam lingkungan hidup dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. f.Mikroorganisme atau jasad renik sangat berperan dalam proses penguraian sisa-sisa jasad hidup yang telah mati sehingga tidak terjadi penumpukan bangkai makhluk hidup, tetapi hancur dan kembali menjadi unsur-unsur tanah. g.Air merupakan kebutuhan vital dan esensial bagi makhluk hidup. Tanpa adanya air, mustahil akan terdapat bentuk-bentuk kehidupan di bumi ini. 4.Kerusakan Lingkungan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak berfungsi dengan baik sesuai dengan peruntukkannya. Beberapa contoh pencemaran yang banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat antara lain sebagai berikut. a.Pencemaran Tanah Pencemaran tanah dapat terjadi sebagai akibat pembuangan sampah limbah rumah tangga, limbah pabrik, sisa oli dari bengkel kendaraan, dan pemakaian pupuk kimia secara berlebihan. Akibat tindakan-tindakan manusia yang ceroboh tersebut maka tanah akan teracuni dan kehilangan tingkat kesuburannya. Penyebab terjadinya pencemaran tanah antara lain sebagai berikut. 1)Salinitas yaitu menjadi asinnya air tanah sehingga menyebabkan tidak baik untuk tanaman. 2)Pemberian DDT yang berlebihan pada tanaman dapat mencemari tanah pertanian. DDT dapat membunuh mikroorganismen sebagai bakteri pembusuk sehingga sisa-sisa organisme dalam tanah tidak cepat terurai menjadi mineral-mineral untuk diisap akar tanaman. 3)Zat-zat kimia yang tidak larut dalam air yang berasal dari limbah pabrik. 4)Pembuangan ampas kimia dan kertas atau plastic bekas menyebabkan terjadinya pencemaran tanah. b.Pencemaran Air Pencemaran air banyak terjadi di daerah-daerah sekitar kawasan industri. Sebagaimana Anda ketahui bahwa limbah cair yang berasal dari pabrik, seperti industri tekstil banyak sekali mengandung unsur-unsur logam berat, seperti mercuri dan timbal. Logam berat ini sangat mencemari air sungai secara kimiawi. Belum lagi dari kualitas fisik dan biologisnya, aliran air sungai suhunya menjadi relatif panas dengan aneka warna akibat limbah dalam proses pencelupan kain. Pencemaran sungai ini tentunya dapat mengganggu kestabilan lingkungan perairan sehingga makhluk hidup yang ada di sekitar sungai akan mati teracuni. Pencemaran air ini bertambah parah oleh limbah yang dibuang dari penduduk (limbah rumah tangga), seperti sampah dan limbah MCK (mandi cuci kakus). Penyebab terjadinya pencemaran air antara lain sebagai berikut. 1)Terjadinya pembusukan yang berlebihan di perairan menyebabkan terjadinya penimbunan senyawa, seperti nitrat (NO3) yang dapat membahayakan makhluk hidup. 2)Tempat sampah organik yang dibuang ke kolam, parit, atau sungai akan mengalami pembusukan yang menyebabkan hewan air mati. 3)Pembuangan limbah industri yang mengandung logam berat ke sungai dan laut. 4)Pembuangan limbah rumah tangga. 5)Sisa pupuk dan racun dari usaha pertanian. 6)Tumpahan minyak dari kapal tanker di lautan. c.Pencemaran Udara Pencemaran udara dapat terjadi karena asap yang berasal dari pabrik maupun kendaraan bermotor yang banyak mengandung gas karbonmonoksida, karbondioksida, nitrat, cianida, dan sulfat. Selain itu, pencemaran udara juga berasal dari kebakaran hutan dalam wilayah yang lebih luas, seperti pernah terjadi di Kalimantan. Salah satu akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran udara adalah terjadinya hujan asam. Hujan asam adalah hujan yang memiliki derajat tingkat keasaman ( pH ) lebih kecil dari 5,6. Air hujan menjadi asam karena terkontaminasi oleh sulfurdioksida dan oksidanitrogen. Sumber sulfurdioksida yang utama adalah industri dengan bahan bakar batu bara, sedangkan sumber oksida nitrogen adalah kendaraan bermotor. Hujan asam mengakibatkan kerugian pada bangunan, ekosistem danau, hutan, serta tanaman pertanian. Hujan asam ini akan terjadi di mana saja, terutama pada daerah kawasan industri. Pencemaran udara dapat digolongkan menjadi dua macam berdasarkan sifat sumber pencemar yaitu. 1)Pencemaran udara alamiah yaitu pencemaran yang disebabkan oleh aktifitas alam, seperti letusan gunungapi, debu tanah dari tiupan angin, serbuk sari tanaman yang membahayakan penderita asma. 2)Pencemaran udara yang berasal dari aktifitas manusia, seperti. a)Pembakaran bahan bakar untuk menghasilkan energy panas dan tenaga. b)Emisi dari kendaraan bermotor yang menggunakan premium, sola, dan kerosin. c)Buangan gas, debu, panas, dan suara dari industry, seperti indutri kimia, peleburan baja, pabrik semen, batu bara, pembangkit listrik. d)Kebocoran pabrik pestisida dan PLTN. d.Pemanasan Global Pemanasan global adalah gejala naiknya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan. Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi yang disebut gas rumah kaca sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi. Peristiwa ini dikenal dengan efek rumah kaca karena peristiwanya sama dengan rumah kaca, di mana panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut. Efek Rumah kaca ditimbulkan oleh gas rumah kaca. Gas rumah kaca yang paling besar yang membentuk di lapisan atmosfer adalah CO2. Selama ini kita menganggap CO2 sebagai suatu polutan karena CO2 tidak beracun. Namun, karbondioksida (CO2) merupakan gas rumah kaca yang penting yang paling banyak dihasilkan dan merupakan sebab yang signifikan dalam pemanasan global. Selain CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) nitrogen dioksida (NO2), serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca. Pemanasan global ini pada akhirnya membawa dampak terjadinya perubahan Iklim yang memengaruhi kehidupan di bumi, melalui adanya perubahan musim secara ekstrem, mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbondioksida di atmosfer. Pemanasan global juga mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Meningkatnya permukaan air laut berpengaruh besar terhadap negara kepulauan karena pulau-pulau yang ada di daratan rendah akan terendam air laut. Selain itu, perubahan iklim menyebabkan musim kemarau yang berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan dan meningkatnya frekuensi kebakaran, yang diikuti dengan kenaikan intensitas curah hujan yang menyebabkan banjir. Meningkatnya penyebaran penyakit tropis (seperti malaria dan demam berdarah), serta sebagian flora dan fauna terancam punah karena tidak bisa beradaptasi dengan suhu yang meningkat. Upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi pemanasan global adalah sebagai berikut. 1)Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya tak terbaharukan (air dan sinar matahari). 2)Mengurangi kebutuhan energi BBM dan listrik PLN. 3)Penggantian CFC dengan teknologi yang tidak merusak ozon. 4)Menggunakan predator alami untuk membasmi hama tanaman. 5)Memelihara pepohonan dan menanam pohon yang lebih banyak. 6)Dalam rumah tangga biasakan melakukan penghematan energi. 7)Mengurangi sampah. Pengurangan gas efek rumah kaca merupakan tanggung jawab seluruh negara, maka diperlukan konferensi internasional untuk mengurangi gas efek rumah kaca. Kesepakatan yang pernah dilakukan di antaranya, Earth Summit di Rio de Jeneiro pada tahun 1992, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk melaksanakan pengurangan gas rumah kaca dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto. Perjanjian ini menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5% di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. e.Kerusakan Hutan Akibat Penebangan Secara Liar dan Tidak Terkendali Beberapa akibat yang ditimbulkan karena penggundulan hutan, antara lain sebagai berikut. 1)Kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan. Pada waktu terjadi hujan dengan intensitas besar, persentase air hujan yang berinfiltrasi kecil sehingga cadangan air tanah sangat sedikit, sedangkan sebagian besarnya bergerak sebagai air larian permukaan (surface runoff). Gejala ini mengakibatkan banjir bandang. Hal yang kontras terjadi pada musim kemarau dimana curah hujan sangat sedikit. Pada saat ini, kekeringan dapat terjadi di setiap wilayah. 2)Suhu udara terasa makin panas. Meningkatnya suhu udara sangat terkait dengan makin gundulnya hutan, serta pening katan kadar emisi karbondioksida dari kendaraan bermotor dan industri. Kadar emisi karbondioksida di atmosfer yang semakin banyak dan sulit dinetralkan, menyebabkan terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect), yaitu sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi tidak dapat dipantulkan ke angkasa karena tertahan pada lapisan CO2. Keadaan demikian mengakibatkan suhu permukaan bumi semakin bertambah panas. 3)Terjadinya longsor. Anda tentu masih ingat peristiwa tanah longsor yang terjadi di Pacet, Mojokerto pada akhir 2002 lalu. Peristiwa tersebut banyak menelan korban jiwa. Terjadinya tanah longsor di daerah tersebut sangat terkait dengan aktivitas penebangan hutan yang makin merajalela di daerah yang bersangkutan. Banjir dan longsor merupakan dua peristiwa yang erat kaitannya dengan hujan dan gundulnya kawasan hutan. Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup. Contohnya, karbondioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat memberikan efek merusak. Suatu zat dapat disebut polutan apabila : a.jumlahnya melebihi jumlah normal, b.berada pada waktu yang tidak tepat, dan c.berada pada tempat yang tidak tepat. Sifat polutan adalah sebagai berikut. a.Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan tidak lagi merusak. b.Merusak dalam jangka waktu lama. Contohnya timbal tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, timbal dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkat yang merusak. Menurut Jenis Polutannya adakan sebagai berikut. a.Bahan kimiawi, misalnya berupa: 1)zat radioaktif, 2)logam (Hg, Pb, As, Cd, Cr, dan Ni), 3)pupuk anorganik, 4)pestisida, 5)detergen dan, 6)minyak. b.Bahan biologi, yang berupa mikroorganisme, misalnya Escherichia coli, Entamoeba coli, dan Salmonella thyposa. c.Bahan fisik (material), misalnya kaleng-kaleng, botol, plastik, dan karet. Indikator-indikator pencemaran adalah sebagai berikut. a.Indikator kimia, meliputi CO2, pH, alkalinitas, fosfor, dan logam-logam berat. b.Indikator biokimia, yaitu dengan mengetahui kadar oksigen dalam air (biological oxygen demand, BOD). BOD digunakan untuk mengukur banyaknya pencemar organik. Ukuran yang ideal, kadar oksigen dalam air tidak boleh kurang dari 3 ppm. c.Indikator fisik, meliputi temperatur, warna, rasa, bau, kekeruhan, dan radioaktivitas. d.Indikator biologi, yakni ada atau tidaknya mikroorganisme, misalnya bakteri coli, virus, bentos, dan plankton. 5.Usaha-Usaha Pelestarian Lingkungan Hidup Gerakan perlindungan alam dimulai di Prancis, tahun 1853 atas usul Para pelukis untuk melindungi pemandangan alam di Fontainebleau di Paris. Sebagai peletak dasar atau gagasan perlindungan alam adalah FWH Alexander Von Humbolt (seorang ahli berkebangsaan Jerman, 1769-1859), sehingga beliau diakui sebagai Bapak Ekologi sedunia. Tokoh organisasi internasional di bidang ini adalah Paul Sarazin (Swiss). Oleh karena keadaan perang maka dasar-dasar organisasi ini baru terbentuk pada tahun 1946 di Basel, dan tahun 1947 di Brunnen. Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA) di Indonesia lahir pada tahun 1912 di Bogor, tokohnya Dr. SH. Kooders. Upaya pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan pengaturan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 mengenai Analisis Dampak Lingkungan, PP No. 19 Tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran Danau atau Perusakan Laut, dan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Penggundulan hutan (deforestation), penggersangan lahan (desertification), pencemaran (pollution), pemanasan global (global warming), dan penipisan lapisan ozon (depletion of ozone layer) adalah bentuk dari degradasi atau penurunan kualitas lingkungan. Konservasi (conservation) adalah pengawetan, perlindungan, atau penyelamatan sumberdaya alam. Berdasarkan UU No.5 Tahun 1990 tentang konservasi, disebutkan bahwa “Konservasi adalah pengelolaan sumberdaya lingkungan yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.” Beberapa contoh bentuk upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup pada wilayah daratan, antara lain sebagai berikut. a.Reboisasi, yaitu berupa penanaman kembali tanaman terutama pada daerah-daerah perbukitan yang telah gundul. b.Rehabilitasi lahan, yaitu pengembalian tingkat kesuburan tanah-tanah yang kritis dan tidak produktif. c.Pengaturan tata guna lahan serta pola tata ruang wilayah sesuai dengan karakteristik dan peruntukan lahan. d.Menjaga daerah resapan air (catchment area) diupayakan senantiasa hijau dengan cara ditanami oleh berbagai jenis tanaman keras sehingga dapat menyerap air dengan kuantitas yang banyak yang pada akhirnya dapat mencegah banjir, serta menjadi persediaan air tanah. e.Pembuatan sengkedan (terasering) atau lorak mati bagi daerah-daerah pertanian yang memiliki kemiringan lahan curam yang rentan terhadap erosi. f.Rotasi tanaman baik secara tumpangsari maupun tumpanggilir, agar unsur-unsur hara dan kandungan organik tanah tidak selamanya dikonsumsi oleh satu jenis tanaman. g.Penanaman dan pemeliharaan hutan kota. Hal ini dimaksudkan supaya kota tidak terlalu panas dan terkesan lebih indah. Mengingat pentingnya hutan di daerah perkotaan, hutan kota sering dinamakan paru-paru kota. Adapun upaya pelestarian lingkungan perairan antara lain melalui upaya-upaya sebagai berikut. a.Larangan pembuangan limbah rumah tangga agar tidak langsung ke sungai. b.Penyediaan tempat sampah, terutama di daerah pantai yang dijadikan lokasi wisata. c.Menghindari terjadinya kebocoran tangki-tangki pengangkut bahan bakar minyak pada wilayah laut. d.Memberlakukan Surat Izin Pengambilan Air ( SIPA ) terutama untuk kegiatan industri yang memerlukan air. e.Netralisasi limbah industri sebelum dibuang ke sungai. Dengan demikian, setiap pabrik atau industri wajib memiliki unit pengolah limbah yang dikenal dengan istilah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). f.Mengontrol kadar polusi udara dan memberi informasi jika kadar polusi melebihi ambang batas, yang dikenal dengan emisi gas buang. g.Penegakan hukum bagi pelaku tindakan pengelolaan sumberdaya perikanan yang menggunakan alat tangkap ikan pukat harimau atau sejenisnya yang bersifat merugikan. h.Pencagaran habitat-habitat laut yang memiliki nilai sumberdaya yang tinggi, seperti yang telah diberlakukan pada Taman Laut Bunaken dan Taman Laut Kepulauan Seribu. Dengan melakukan usaha peternakan dan pertanian, maka manfaat lingkungan dapat diperbesar dan risiko terhadap lingkungan dapat diperkecil sehingga kemungkinan terpenuhinya kebutuhan dasar dapat lebih terjamin. Usaha manusia berupa penjinakkan dan pemeliharaan tumbuhan dan hewan liar disebut domestikasi. Usaha ini merupakan bentuk usaha awal terhadap pengelolaan atau pelestarian lingkungan dalam kebudayaan manusia. Bentuk atau cara pelestarian lainnya, seperti cagar alam, cagar budaya, ataupun cagar biosfer. a.Cagar Alam Cagar alam adalah areal yang dijaga dan difungsikan untuk melindungi flora dan fauna yang terdapat di dalamnya. Di dalam cagar alam tersebut tidak diperkenankan adanya eksploitasi tumbuhan, hewan, atau kekayaan alam lainnya. Alam dalam kawasan tersebut dibiarkan apa adanya atau tumbuh secara alamiah. Dalam era pembangunan dewasa ini ada keinginan kuat untuk mengikut sertakan cagar alam dalam proses pembangunan maka digunakan istilah Taman Nasional. Taman Nasional adalah kawasan konservasi yang dikelola secara terpadu, artinya semua tujuan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan dapat ditampung dalam satu kesatuan (unit) pengelolaan. Di kawasan ini tujuan utama dititikberatkan pada perlindungan dan pengawetan semata, sedangkan upaya pemanfaatan secara langsung sangat terbatas sekali. Pembangunan Taman Nasional memiliki azas pokok di mana pengembangan azas pokok sebagai berikut. 1)Suatu Taman Nasional relatif harus cukup luas. 2)Taman Nasional harus memiliki sumberdaya alam yang khas dan unik, baik flora, fauna, ekosistem, maupun gejala alam yang bersifat masih utuh dan asli. 3)Tidak ada perubahan karena kegiatan eksploitasi dan permukiman penduduk. 4)Kebijaksanaan dan pengelolaan Taman Nasional berada pada departemen yang kompeten dan bertanggung jawab. 5)Memberikan kesempatan kepada pengembangan objek wisata alam sehingga terbuka untuk umum dengan persyaratan khusus bagi tujuan pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, bina cinta alam, dan rekreasi. Memerhatikan asas-asas pokok tersebut, Taman Nasional di Indonesia memiliki beberapa fungsi utama yaitu sebagai berikut. 1)Menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi sistem penyangga kehidupan. 2)Melindungi keanekaragaman jenis dan mengupayakan manfaat sebagai sumber plasma nutfah. 3)Menyediakan sarana-sarana penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan latihan. 4)Memenuhi kebutuhan sarana wisata alam dan melestarikan budaya setempat. 5) Merupakan bagian dari pengembangan daerah setempat. Dilihat dari beberapa fungsi serta azas pokok Taman Nasional maka untuk mencapai tujuan utama pembangunannya diperlukan pembagian wilayah yang lebih lazim disebut zonasi atau mintakat. Berdasarkan prinsip dan fungsi pokok Taman Nasional, suatu kawasan Taman Nasional paling tidak harus memiliki zona inti (sangtuary zone), zona rimba (wildderness zone), dan zona pengembangan (intensive use zone). 1) Zona inti adalah bagian kawasan Taman Nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperkenankan ada perubahan apapun yang disebabkan oleh tindakan-tindakan manusia. 2) Zona rimba adalah bagian kawasan Taman Nasional yang melindungi zona inti di mana pembangunan fisik yang bersifat permanen tidak diperkenankan serta dapat dikunjungi secara terbatas. 3) Zona pengembangan adalah bagian kawasan Taman Nasional yang dikhususkan bagi pembangunan sarana prasarana terutama untuk kemudahan dalam upaya pengelolaan serta memberikan dan menyediakan fasilitas pariwisata, khususnya wisata alam. Dalam Taman Nasional dapat pula dibentuk zona penyangga (buffer zone). Zona penyangga ini sebagai suatu benteng yang melindungi sumberdaya alam Taman Nasional dari gangguan baik yang berasal dari luar kawasan ataupun dari dalam kawasan, seperti gangguan satwa. Pada tahun 1982 diadakan Kongres Taman nasional sedunia di Bali (World National Park Conggres). Dalam kongres itu Pemerintah Indonesia mengumumkan 16 taman nasional (TN) yang ada di Indonesia, yaitu sebagai berikut. 1) TN. Kerinci Seblat (Sumbar, Jambi. Bengkulu) ± 1.485.000 Ha 2) TN. Gunung Leuser (Sumut, Aceh) ± 793.000 Ha 3) TN. Barisan Selatan (Lampung, Bengkulu) ± 365.000 Ha 4) TN. Tanjung Puting (Kalteng) ± 355.000 Ha 5) TN. Drumoga Bone (Sulut) ± 300.000 Ha 6) TN. Lore Lindu (Sulteng) t 231.000 Ha 7) TN. Kutai (Kaltim) ± 200.000 Ha 8) TN. Manusela Wainua (Maluku) ± 189.000 Ha 9) TN. Kepulauan Seribu (DKI) ± 108.000 Ha 10) TN. Ujung Kulon (Jabar) ± 79.000 Ha 11) TN. Besakih (Bali) ± 78.000 Ha 12) TN. Komodo (HTB) ± 75.000 Ha 13) TN. Bromo Tengger, Semeru (Jatim) ± 58.000 Ha 14) TN. Meru Betiri (Jatim) ± 50.000 Ha 15) TN. Baluran (Jatim) ± 25.000 Ha 16) TN. Gede Pangrango (Jabar) ± 15.000 Ha b. Cagar Budaya Cagar budaya pun memiliki pengertian yang sama dengan cagar alam, hanya yang dilindungi bukan suatu daerah, melainkan hasil kebudayaan manusia. Misalnya, sebuah candi dengan daerah di sekitarnya dan daerah Condet di Ibukota Jakarta yang merupakan perkampungan masyarakat Betawi asli yang sebagian besar sudah tergusur ke luar Jakarta oleh derasnya pembangunan dan arus penduduk pendatang. c. Cagar Biosfer Cagar biosfer dapat meliputi suatu daerah yang telah dibudidayakan manusia, seperti pertanian dan permukiman. Cagar biosfer sulit untuk dipertahankan karena masyarakat yang ada di dalamnya cenderung berubah dan berkembang pada kehidupan yang jauh lebih modern. Nilai-nilai yang terkandung dalam perlindungan alam meliputi nilai ilmiah, nilai ekonomi, dan nilai budaya yang saling berkaitan. Secara terperinci, nilai-nilai yang dimiliki dalam perlindungan dan pengawetan alam dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Nilai ilmiah, yaitu kekayaan alam, misalnya, hutan dapat digunakan sebagai tempat penelitian biologi untuk pengembangan ilmu (sains). Misalnya, botani, proteksi tanaman, dan penelitian ekologi. b. Nilai ekonomi, yaitu perlindungan alam ditujukan untuk kepentingan ekonomi. Misalnya pengembangan daerah wisata. Hal ini akan mendatangkan berbagai lapangan kerja. Hutan dengan hasil hutannya, dapat menjadi sumber devisa bagi negara. c. Nilai budaya, yaitu flora dan fauna yang khas maupun hasil budaya manusia pada suatu daerah dapat menimbulkan kebanggaan tersendiri, misalnya Candi Borobudur, komodo, dan tanaman khas Indonesia (melati dan anggrek). d. Nilai mental dan spiritual, misalnya dengan perlindungan alam, manusia dapat menghargai keindahan alam serta lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pemerintah Indonesia memberikan beberapa bentuk penghargaan bagi orang atau pemerintah daerah yang peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup yaitu : a. Kalpataru Hadiah Kalpataru diberikan kepada berikut ini. 1) Perintis lingkungan hidup, yaitu mereka yang telah memelopori untuk mengubah lingkungan hidup yang kritis menjadi subur kembali. 2) Penyelamat lingkungan hidup, yaitu mereka yang telah menyelamatkan lingkungan hidup yang rusak. 3) Pengabdi lingkungan hidup, yaitu petugas-petugas yang telah mengabdikan dirinya untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Kalpataru berupa pahatan Kalpataru tiga dimensi yang berlapis emas murni. Pahatan ini mencontoh pahatan yang terdapat pada Candi Mendut yang melukiskan pohon kehidupan serta mencerminkan sikap hidup manusia Indonesia terhadap lingkungannya, yaitu keselarasan dan keserasian dengan alam sekitarnya. b. Adipura Hadiah Adipura diberikan kepada berikut ini. 1) Kota-kota terbersih di Indonesia. 2) Daerah-daerah yang telah berhasil membuat Laporan Neraca Kependudukan dan Lingkungan Hidup Daerah (NKLD). Pemerintah telah mengatur tentang aturan yang bertujuan untuk menekan dampak yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan atau usaha terhadap lingkungan. Aturan tersebut adalah kewajiban membuat AMDAL bagi orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Peraturan tentang kewajiban membuat AMDAL diatur dalam peraturan-peraturan berikut: 1. UU No. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan; 2. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan; 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 4. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. AMDAL menurut PP No.27 Tahun 1999 adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Analisis dampak lingkungan ini merupakan analisis yang meliputi berbagai faktor yaitu faktor fisik, kimia, biologi, sosial ekonomi dan social budaya yang dilakukan secara integrasi dan menyeluruh sehingga dapat menghasilkan sebagai berikut : 1. Dapat menunjukkan tempat pembangunan yang layak pada suatu wilayah beserta pengaruhnya, 2. Dapat digunakan sebagai masukan dengan pertimbangan yang lebih luas bagi perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan sejak awal, dan 3. Dapat digunakan sebagai arahan/pedoman bagi pelaksanaan rencana kegiatan pembangunan termasuk rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. 1. Prosedur Operasional AMDAL Penyelenggaraan AMDAL seharusnya dilakukan menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. a. AMDAL harus merupakan bagian yang esensial dan terpadu dari kegiatan perencanaan. b. Sebagai pedoman untuk melakukan AMDAL diperlukan adanya tujuan dan kebijaksanaan nasional yang jelas mengenai pengelolaan lingkungan. c. Diperlukan adanya susunan organisasi yang jelas peranannya untuk proses penyelenggaraan AMDAL, misalnya pengambilan keputusan, tim penilai, tenaga ahli, pelaksana proyek, dan pihak masyarakat. d. Diperlukan jadwal waktu yang pasti untuk proses penyelenggaraannya. e. AMDAL diselenggarakan untuk bidang-bidang multidisipliner yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada, misalnya untuk faktor-faktor kimia, fisika, biologi, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. f. Langkah paling awal dalam proses penyelenggaraan AMDAL adalah perlunya dipersiapkan sumber-sumber data yang relevan serta tim ahli. g. AMDAL merupakan studi alternatif tanpa disertai kegiatan fisik. h. AMDAL harus mempunyai kerangka spatial yang luas. i. Prediksi tingkat dampak yang dinyatakan dalam AMDAL harus mencakup prediksi untuk jangka waktu menengah dan jangka panjang. Misalnya dalam proyek-proyek fisik tiga jangka harus ada, yaitu: 1) Selama konstruksi; 2) Setelah proyek beroperasi; 3) Setelah kegiatan proyek berakhir. j. AMDAL juga melakukan perbandingan tingkat dampak antara keadaan setelah proyek berjalan dengan keadaan apabila proyek itu tidak ada. k. Dalam AMDAL harus mencakup faktor-faktor berikut. 1) Deskripsi dari kegiatan yang diusulkan akan dilaksanakan beserta berbagai alternatifnya. 2) Prediksi besaran dari pengaruh positif maupun negative terhadap lingkungan. 3) Identifikasi dari kepentingan manusia. 4) Daftar mengenai indikator lingkungan, termasuk metode yang digunakan dalam skala besarannya. 5) Pendugaan terhadap besarnya tingkat dampak yang dinyatakan dengan masing-masing indikator lingkungan. 6) Rekomendasi mengenai diterima atau ditolaknya AMDAL tersebut oleh pihak berwenang. 7) Rekomendasi untuk prosedur pengawasan. l. Dalam pelaksanaannya seharusnya digunakan metodologi AMDAL yang tepat, pendekatan yang terlalu sulit dan terlalu sederhana sebaiknya dihindari. 2. Komponen-Komponen AMDAL AMDAL terdiri atas lima komponen, yaitu sebagai berikut. a. Studi Pra-Proyek Studi pra-proyek dilakukan guna mengukur dan memperkirakan perubahan keadaan lingkungan. Pengukuran ini dilakukan bedasarkan pada data baik data fisik, kimia, biologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya. b. Laporan Penilaian Laporan penilaian adalah laporan yang disusun dari hasil studi pra-proyek yang berupa kemungkinan yang akan terjadi jika proyek tersebut berjalan. c. Pembuatan Keputusan Proses pembuatan keputusan berdasarkan pada laporan penilaian serta hasil prediksi pengaruh proyek terhadap lingkungan kelak. Namun kenyataan dalam pengambilan keputusan ini sangat dipengaruhi oleh nuansa politik. d. Persetujuan Proyek Persetujuan proyek mengandung rekomendasi dari hasil analisis interaksi antara proyek dengan lingkungan, contohnya adalah proyek dapat disetujui dengan rekomendasi akan dilakukannya usaha-usaha untuk memperkecil pengaruh negatif terhadap lingkungan. e. Pemantauan Proyek Pemantauan proyek dilakukan dalam kurun waktu 2-3 tahun, untuk memantau sudahkah proyek tersebut berjalan sesuai dengan yang direkomendasikan dan disetujui proyek. 3. Manfaat AMDAL Manfaat AMDAL secara umum adalah menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan agar layak secara lingkungan. Layak secara lingkungan berarti kegiatan tersebut sesuai dengan peruntukkannya sehingga dampak yang ditimbulkan dapat ditekan. a. Manfaat AMDAL khususnya bagi pemerintah di antaranya sebagai berikut. 1) Mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan. 2) Menghindari konflik dengan masyarakat. 3) Menjaga agar pembangunan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. 4) Perwujudan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup. b. Manfaat AMDAL bagi pemrakarsa, di antaranya sebagai berikut. 1) Menjamin keberlangsungan usaha. 2) Menjadi referensi dalam peminjaman kredit. 3) Interaksi saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar. 4) Sebagai bukti ketaatan hukum. c. Manfaat AMDAL bagi masyarakat, antara lain sebagai berikut. 1) Mengetahui sejak dini dampak dari suatu kegiatan. 2) Melaksanakan kontrol. 3) Terlibat dalam proses pengambilan keputusan. B. Pembangunan Berkelanjutan Pada tahun 1972, fenomena degradasi lingkungan hidup dibicarakan oleh beberapa kepala negara dalam pertemuan di Stockholm, Swedia. Pertemuan ini menghasilkan keputusan pembentukan lembaga-lembaga pemerintah dan nonpemerintah di beberapa negara yang bertugas untuk melestarikan lingkungan hidup. Pada tahun delapan puluhan, masalah lingkungan berkembang menjadi masalah global. Setelah dikenalkan oleh komisi dunia untuk lingkungan hidup tahun 1987, konsep pembangunan berkelanjutan diadopsi oleh sebagian besar negara di dunia. Konferensi Tingkat Tinggi Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) tahun 1992, yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brasil membahas masalah lingkungan dan menghasilkan konsep pembangunan berkelanjutan yang tersusun dalam Agenda 21 yaitu suatu rencana global untuk pembangunan berkelanjutan yang dapat dijadikan panduan bagi negara-negara untuk melaksanakan: 1. Pembangunan berkelanjutan dan pembangunan ekonomi. 2. Pemerintahan yang demokratis. 3. Pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan. Setelah konferensi di Rio de Janeiro, Konferensi Tingkat Tinggi Pembangunan Berkelanjutan diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan pada tanggal 26 Agustus s.d 4 September 2002. Konferensi Pembangunan Berkelanjutan di Afrika Selatan ini menghasilkan pokok-pokok rencana pelaksanaan sebagai berikut. 1. Pemberantasan kemiskinan. 2. Perubahan pola konsumsi dan produksi. 3. Proteksi dan mengelola sumberdaya alam sebagai landasan pembangunan ekonomi dan sosial. 4. Pembangunan berkelanjutan dalam pengembangan globalisasi. 5. Kesehatan dan pembangunan berkelanjutan. 6. Pembangunan berkelanjutan bagi negara berkepulauan kecil. 7. Pembangunan berkelanjutan untuk Afrika. 8. Pembangunan berkelanjutan untuk kawasan regional: Amerika Latin dan Karibia, Asia dan Pasifik, kawasan Afrika Barat dan Eropa. 9. Sarana untuk pelaksanaan perdagangan, keuangan, ahli teknologi, iptek, dan lain-lain. 10. Kerangka kelembagaan pembangunan berkelanjutan (good governance). Berkaitan dengan pokok-pokok pelaksanaan, di Indonesia telah diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Indonesia untuk pembangunan berkelanjutan (Indonesian Summit on Sustainable Development). Dalam konferensi ini dibahas tentang masalah mendesak yang dihadapi Indonesia dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Masalah mendesak di Indonesia adalah : 1. Pengentasan kemiskinan. 2. Tata pemerintahan yang baik dan masyarakat madani. 3. Pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. 4. Perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan (tata ruang dan pengendalian pencemaran). 5. Kemitraan (di bidang air, energi, kesehatan, pertanian, keanekaragaman hayati). 6. Pendanaan. 7. Kelembagaan pembangunan berkelanjutan. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumberdaya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Pembangunan berkelanjutan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. 1. Memberi kemungkinan pada kelangsungan hidup dengan cara melestarikan fungsi dan kemampuan ekosistem yang mendukungnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. 2. Memanfaatkan sumberdaya alam dengan memanfaatkan teknologi yang tidak merusak lingkungan. 3. Memberikan kesempatan kepada sektor dan kegiatan lainnya untuk berkembang bersama-sama di setiap daerah dalam kurun waktu yang sama ataupun berbeda secara berkesinambungan. 4. Meningkatkan dan melestarikan kemampuan dan fungsi ekosistem untuk memasok, melindungi, serta mendukung sumber alam bagi kehidupan secara berkesinambungan. 5. Menggunakan prosedur dan tata cara yang memperhatikan kelestarian fungsi dan kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1990), menggariskan kebijakan lingkungan dalam kaitannya pembangunan yang berkelanjutan sebagai berikut. 1. Menggiatkan kembali pertumbuhan ekonomi yang mempunyai kaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. 2. Mengubah kualitas pertumbuhan yang berhubungan dengan tindakan pelestarian sumbderdaya alam, perbaikan pemerataan pendapatan, dan ketahanan terhadap berbagai krisis ekonomi. 3. Memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti pangan, papan, sandang, energy, air, dan sanitasi. 4. Memastikan tercapainya jumlah penduduk yang berkelanjutan yaitu stabil dan sesuai dengan daya dukung lingkungannya. 5. Menjaga kelestarian dan meningkatkan sumberdaya dengan penciptaan dan perluasan lapangan kerja, pelestarian, dan penggunaan energy secara efisien, pencegahan pencemaran (air dan udara) sedini mungkin. 6. Berorientasi pada teknologi dalam pengelolaan risiko, seperti inovasi dan penggunaan teknologi ramah lingkungan. 7. Menggabungkan kepentingan lingkungan dan ekonomi dalam pengambilan keputusan. Pengertian pembangunan berwawasan lingkungan tersebut memberikan gambaran bahwa minimal terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan berwawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan yaitu: 1. Pengelolaan sumberdaya alam secara bijaksana; 2. Pembangunan berkesinambungan sepanjang masa; dan 3. Peningkatan kualitas hidup generasi. Jika terdapat pengelolaan sumberdaya alam secara bijaksana, terdapat pula pengelolaan lingkungan hidup yang kurang bijaksana. Kegiatan yang tidak bijaksana merupakan tindakan pengrusakan lingkungan. Dengan demikian, pengelolaan sumberdaya alam yang tidak bijaksana akan menimbulkan perubahan secara langsung maupun tidak langsung terhadap sifat fisik dan hayati lingkungan yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan. Bentuk-bentuk kegiatan yang tidak bijaksana, antara lain sebagai berikut. 1. Berburu binatang yang telah dilindungi oleh undang-undang dapat memusnahkan binatang langka. 2. Menangkap ikan di sungai, danau, maupun laut dengan menggunakan bahan peledak, listrik, atau racun akan mematikan seluruh jenis ikan. 3. Pembangunan rumah, permukiman, dan fasilitas sosial di daerah sempadan sungai dan di daerah resapan air. 4. Menebang kayu di hutan lindung secara sewenang-wenang mengakibatkan hutan menjadi gundul. Hutan yang gundul akan memperbesar peluang terjadinya erosi, kekeringan, dan tanah tandus. 5. Melakukan sistem ladang berpindah. 6. Membuang limbah rumah tangga maupun industri secara sembarangan. Tujuan pembangunan berwawasan lingkungan hidup, antara lain: 1. Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; 2. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindakan yang melindungi lingkungan hidup; 3. Terjaminnya kepentingan generasi sekarang dan generasi yang akan datang; 4. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; 5. Terkendalinya pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana; 6. Terlindunginya wilayah Indonesia dari pengaruh negatif pembangunan, seperti pencemaran tanah, air, dan udara. Dalam kegiatan proyek-proyek pembangunan yang berskala besar, sebelum proyek itu dilaksanakan diwajibkan menyusun suatu Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang telah diatur dalam PP No. 27 Tahun 1999. Adapun bagi proyek-proyek yang sudah berjalan, dan sebelumnya tidak dilengkapi dengan dokumen Amdal, akan dilakukan audit lingkungan. Audit lingkungan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan kebijaksanaan atau standar yang telah ditetapkan. Dalam pembangunan berwawasan lingkungan hidup, peran serta masyarakat juga sangat dibutuhkan. Dalam hal ini masyarakat memiliki hak sebagai berikut. 1. Setiap orang memiliki hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. 2. Setiap orang memiliki hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. 3. Setiap orang memiliki hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain hak, masyarakat juga memiliki kewajiban yang porsinya sama dan harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Kewajiban-kewajiban tersebut antara lain sebagai berikut. 1. Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. 2. Setiap orang yang melakukan usaha berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. 3. Masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Sejak manusia meninggalkan cara hidup mengembara dan berburu liar, maka sejak saat itu pula sumberdaya alam dan lingkungan hidup manusia mulai dikelola, dimanfaatkan dalam batas-batas tertentu, dan dengan tujuan-tujuan tertentu. Dalam asasnya, pengelolaan sumberdaya alam memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut. 1. Menjamin kesehatan dan kesejahteraan manusia, baik yang bersifat rohaniah maupun jasmaniah. 2. Melindungi alam (lingkungan), seperti tanah, udara, air, flora, dan fauna dari gangguan alami dan manusia. 3. Menghilangkan, menghapus atau memberantas bahaya, kerusakan, kerugian, pencemaran, dan beban-beban lain yang disebabkan oleh perilaku manusia. 4. Memperbaiki mutu atau kualitas lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan pada dasarnya suatu upaya pembangunan yang berjalan berkesinambungan atau berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) meupakan proses pembangunan yang memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia sebesar-besarnya, dengan menyerasikan potensi sumberdaya alam dengan manusia sebagai subjek dan objek dalam pembangunan. Pandangan ini didasari oleh beberapa anggapan, yaitu sebagai berikut. 1. Proses pembangunan harus berlangsung terus-menerus, ditopang oleh sumberdaya alam yang selalu tersedia dan cukup, mutu lingkungan yang baik, serta bertahan dalam waktu cukup lama. 2. Sumberdaya alam terutama udara, air, dan tanah memiliki ambang batas yang penggunaannya akan menyusut baik kuantitas maupun kualitasnya. 3. Mutu atau kualitas lingkungan berhubungan langsung dengan mutu atau kualitas hidup. Semakin baik kualitas atau mutu lingkungan maka semakin baik pula mutu atau kualitas hidup. 4. Pola penggunaan sumberdaya alam saat ini seharusnya memberikan kemungkinan berbagai pilihan pengunaan sumberdaya alam di masa mendatang, seperti bahan bakar untuk kendaraan bermotor tidak selamanya harus menggunakan bensin atau solar. 5. Pembangunan berkelanjutan harus merupakan solidaritas antargenerasi, maksudnya sumberdaya alam yang ada sekarang tidak hanya dihabiskan untuk kesejahteraan generasi saat ini, tetapi dapat diwariskan bagi kesejahteraan generasi di masa mendatang. Kaitannya dengan aspek ekologi maka pengembangan pariwisata dikembangkan ke arah pelestarian lingkungan atau ekowisata (ecotourism). Low Choy Hebron (1996) merumuskan lima faktor batasan yang mendasar dalam penentuan prinsip utama ekowisata, yaitu: 1. Lingkungan, ekowisata harus bertumpu pada lingkungan alam dan budaya yang relatif belum tercemar atau terganggu. 2. Masyarakat, ekowisata harus dapat memberikan manfaat ekologi, sosial dan ekonomi langsung kepada masyarakat setempat. 3. Pendidikan dan pengalaman, ekowisata harus dapat meningkatkan pemahaman akan lingkungan alam dan budaya yang terkait, sambil memperoleh pengalaman yang mengesankan. 4. Berkelanjutan, ekowisata harus dapat memberikan sumbangan positif bagi berkelanjutan ekologi dan lingkungan kegiatan dan tidak akan merusak serat menurunkan mutu, baik jangka pendek maupun jangka panjang. 5. Manajemen, ekowisata harus dapat dikelola dengan cara yang dapat menjamin keberlangsungan (daya) hidup lingkungan alam budaya yang terkait di daerah tempat kegiatan ekowisata, sambil menerapkan cara mengelola yang terbaik untuk menjamin keberlangsungan hidup ekonominya. Keberlanjutan pembangunan ditentukan oleh lima aspek, yaitu lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. 1. Lingkungan Unsur-unsur lingkungan dan kesehatan ekosistem harus diperhatikan. Misalnya, ketersediaan air bersih serta keberadaan flora dan fauna. 2. Ekonomi Unsur ekonomi berkaitan dengan kesejahteraan yang layak bagi penduduk. 3. Sosial Keterlibatan masyarakat sangat mendukung keberlanjutan pembangunan. Ketidakadilan antar kelompok dalam mendapatkan hasil pembangunan akan melahirkan protes dan gugatan. 4. Budaya Unsur budaya berkaitan dengan identitas budaya, kebutuhan budaya, dan pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-menurun. 5. Politik Unsur politik berkaitan dengan pengambilan keputusan yang demokratis mengenai masalah lingkungan, ekonomi, dan sosial dibahas dalam agenda politik untuk menghasilkan kebijakan yang tepat. Keberhasilan pembangunan nasional di bidang ekonomi dapat ditunjukkan dengan beberapa indikator. Indikator yang sering digunakan adalah dengan mengetahui peningkatan Produk Nasional Bruto/PNB (Gross National Produk/GNP) dan PNB per kapita, fasilitas komunikasi dan transportasi, penggunaan energi per tahun, dan jumlah pekerja di berbagai sektor industri.Pembangunan nasional dilaksanakan setiap negara di dunia di berbagai bidang. Bidang pembangunan antara lain pertanian, industri, perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, komunikasi, dan sosial budaya. Pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang menghasilkan tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Peningkatan pembangunan nasional dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut. 1. Penduduk. 2. Infrastruktur, antara lain transportasi, komunikasi, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan. 3. Teknologi. 4. Keadaan alam, antara lain sumberdaya alam, faktor fisik (iklim, tanah, dan topografi). 5. Pemerintah Sasaran-sasaran strategis pembangunan nasional berdasarkan tiga unsur penting yang menjadi acuan setiap pelaksanaan pembangunan nasional, yaitu sebagai berikut. 1. Mewujudkan Stabilitas Nasional yang Sehat dan Dinamis Untuk mewujudkan hal tersebut usaha yang dilakukan, yaitu sebagai berikut. a. Mengusahakan stabilitas politik yang sehat berdasarkan partisipasi kesadaran politik masyarakat yang meningkat termasuk terselenggaranya keamanan dan ketertiban. b. Penyediaan dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok yang memadai. c. Mengendalikan pada batas laju inflasi dunia rata-rata (di bawah 10%). d. Menjaga agar cadangan devisa negara tetap memadai. 2. Mencapai Tingkat Pertumbuhan Ekonomi yang Cukup Tinggi Untuk mencapai hal itu perlu ditingkatkan produksi berbagai sector ekonomi seperti pertanian, industri, pertambangan dan energi, prasarana angkutan, perdagangan, serta pemanfaatan sumberdaya alam, sekaligus memelihara kelestariannya. Dalam usaha membangun landasan pembangunan yang kukuh dan lebih luas, struktur perekonomian harus seimbang, memiliki kemampuan dan kekuatan industry maju yang didukung oleh kekuatan dan kemampuan pertanian yang tangguh. 3. Pemerataan Pembangunan Untuk dapat mencapai pemerataan dalam pembangunan usaha yang dilakukan antara lain melalui delapan jalur pemerataan yang meliputi: a. pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak, khususnya pangan, sandang, dan perumahan; b. pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan; c. pemerataan pembagian pendapatan; d. pemerataan kesempatan kerja; e. pemerataan kesempatan berusaha; f. pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan, khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita; g. pemerataan persebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air; dan h. pemerataan kesempatan memperoleh keadilan. MEMBEDAKAN WILAYAH FORMAL DAN FUNGSIONAL (NODAL) SERTA USAHA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP 1. Wilayah Formal Menurut Wardiyatmoko, wilayah formal adalah wilayah yang bercirikan dengan asosiasi areal yang ditandai dengan alam fisik, biotik, dan sosial. Perwilayahan secara formal di permukaan bumi, mudah diamati dan dibedakan karena perwilayahan secara formal jelas batas-batasnya. Berdasarkan proses klasifikasinya ada beberapa wilayah secara formal antara lain: a. Wilayah Menurut Kekhususannya. Klasifikasi wilayah ini merupakan daerah tunggal, mempunyai ciri-ciri geografi yang khusus. Wilayah demikian ini disebut specific region. Contoh: 1) Wilayah Asia Tenggara, di mana daerah ini merupakan daerah tunggal dan mempunyai ciri-ciri geografi yang khusus, seperti dalam hal lokasi, penduduk, adat-istiadat, bahasa, dan lain sebagainya. 2) Wilayah waktu Indonesia bagian Timur, di mana daerah ini merupakan daerah tunggal dan mempunyai ciri khusus, yaitu yang lokasinya di Indonesia bagian timur. 3) Wilayah daerah penangkapan udang laut di Indonesia mempunyai ciri khusus. Lokasinya sepanjang pantai hutan bakau atau laut yang pantainya tidak begitu dalam dan reliefnya bercelah-celah yang cocok untuk sarang udang. b. Wilayah yang Menekankan Perbedaan Kepada Jenisnya disebut generic region. Dalam hal ini fungsi wilayah kurang diperhatikan. Contoh : wilayah iklim, wilayah vegetasi, wilayah fisiografi, wilayah pertanian, dan wilayah yang menghasilkan hasil bumi. Dalam hal ini yang ditekankan adalah jenis perwilayahan saja. c. Wilayah Berdasarkan Keseragaman atau Kesamaan Dalam Kriteria Tertentu. Wilayah seperti ini disebut uniform region. Contoh : wilayah pertanian, di mana terdapat keseragaman atau kesamaan antara petani atau daerah pertanian dan kesamaan ini menjadi sifat yang dimiliki oleh elemen-elemen yang membentuk wilayah. 2. Wilayah Fungsional (Nodal) Menurut Wardiyatmoko, wilayah fungsional (nodal) adalah wilayah-wilayah penting yang sangat erat kaitannya dengan objek kejadian di permukaan bumi. Contoh: a. Terjadinya tanah longsor (erosi) di daerah Wonogiri adalah di daerah pegunungan yang wilayah hutannya gundul. b. Terjadinya gempa bumi tsunami di Aceh, wilayah yang paling parah adalah Meulaboh karena daerahnya dekat pantai, tanahnya relative datar, dan dekat dengan pusat gempa bumi di dasar laut. c. Terjadinya letusan gunung api Merapi di Jawa Tengah (April s.d. Juni 2006), wilayah yang paling parah adalah kecamatan Selo Boyolali karena jaraknya dengan gunung Merapi sangat dekat (± 6 km). d. Terjadinya kekeringan air di gunung seribu di Jawa Tengah Selatan, wilayah yang paling menderita adalah Kecamatan Parang Gupito dan Rongkop karena daerah topografi karst, air tanahnya sangat dalam. e. Candi Borobudur terkenal di dunia dan termasuk tujuh keajaiban dunia, wilayah Indonesia yang paling penting, yaitu Muntilan Magelang karena dekat dengan Borobudur sehingga dapat menyediakan kebutuhan sarana dan prasarana bagi wisatawan. Baik pada wilayah formal dan wilayah fungsional segala bentuk pengembangan pembangunan harus berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, usaha pelestarian lingkungan hidup harus dilaksanakan seoptimal mungkin. Usaha pelestarian lingkungan hidup banyak kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. 1. Contoh Perwilayahan Formal Suatu wilayah yang ditandai dengan asosiasi areal yang ditandai dengan kenampakan fisik (alam), biotik (kehidupan), dan sosial (kemasyarakatan) merupakan wilayah secara formal. Permukaan bumi ini sangat luas sehingga perwilayahan secara formal juga banyak aneka ragamnya. a. Contoh Kenampakan Areal Fisik 1) Gunung dan pegunungan. 2) Sungai, DAS, dan rawa. 3) Relief berbentuk antiklinal, sinklinal, patahan, dan lipatan. b. Contoh Kenampakan Areal Biotik 1) Hutan-hutan. 2) Daerah pertanian dan perkebunan. 3) Daerah sawah, tegal, dan ladang. c. Contoh Kenampakan Areal Sosial 1) Kelompok RT, RW, dan kelurahan. 2) Golongan masyarakat desa dan masyarakat kota. 3) Golongan bangsa kulit putih dan kulit hitam. 2. Contoh Perwilayahan Fungsional Wilayah yang dalam banyak hal diatur oleh beberapa pusat kegiatan yang saling dihubungkan dengan garis melingkar. Wilayah seperti ini disebut nodal region. Contoh wilayah nodal region kota metropolitan: Daerah Khusus Ibu kota Jakarta Raya, di mana di kota ini terdapat beberapa pusat kegiatan yang saling dihubungkan oleh jaring-jaring jalan. Wilayah metropolitan Jakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia merupakan wilayah fungsional dengan ciri-ciri sebagai berikut. a. Merupakan kota utama sebagai jantung pemerintah Indonesia dan menjadi pusat perhatian. b. Merupakan pusat kegiatan pemerintah yang menjadi pusat komando dan kendali. c. Menjadi pusat kegiatan yang ramai meliputi kegiatan pendidikan, kebudayaan, jasa, transportasi, bisnis perdagangan, dan lain-lain. d. Untuk kelancaran kota dilengkapi fasilitas pendukung misalnya jalur jalan raya, listrik, telepon, air minum, perbankan, transportasi, dan jasa lainnya. e. Banyak pusat kegiatan yang saling dihubungkan oleh jaring-jaring jalan dan komunikasi. f. Banyak aturan administrasi dan pengaturan lingkungan untuk mengatur agar budaya tertib tetap berjalan. g. Banyak memerlukan tenaga kerja spesial/khusus untuk melaksanakan roda pemerintahan misalnya bidang teknologi, bidang perkantoran, bidang kepolisian (keamanan), bidang medis, bidang pendidikan, bidang transportasi, dan komunikasi. h. Perlu pengaturan lokasi kota misalnya tempat perkantoran, tempat perdagangan atau bisnis, tempat industri, tempat pemukiman, tempat pendidikan, dan jasa lainnya. DAFTAR ISTILAH Abiotik : benda yang terdapat di lingkungan alam memiliki ciri tidak hidup dan dicirikan dengan tidak adanya organisme hidup. Misalnya batuan-batuan dan bangunan yang dibentuk manusia. Antototrof : organisme yang mampu membuat atau mensintesis makanannya sendiri. Antroposfer : lapisan yang ditempati manusia. Bahan galian : adalah semua bentukan alam yang terkandung di dalam perut bumi atau di permukaan bumi dalam bentuk hablur (kristal) maupun cair yang memiliki susunan kimia tersendiri. Biochore : suatu hal yang berhubungan dengan pengelompokkan beberapa biotop yang memiliki persamaan dan tersebar di seluruh permukaan bumi. Biogeografi : ilmu tentang penyebaran tumbuh-tumbuhan dan binatang secara geografis di permukaan bumi. Bioma : bentang lahan yang memiliki karakteristik khas yang berdasarkan keadaan iklimnya didominasi oleh flora dan fauna tertentu. Biosfer : tempat atau bagian dari permukaan bumi yang dapat mendukung kelangsungan hidup organisme. Biota : flora dan fauna yang hidup dalam suatu bioma. Biotik : makhluk hidup (tumbuhan, hewan, manusia) baik yang bersifat mikro maupun makro serta proses-prosesnya. Briket : batubara dalam bentuk bahan bakar padat. Buffer Zone : zona penyangga yang melindungi sumberdaya alam Taman Nasional dari pengaruh yang datangnya baik dari luar maupun dari dalam kawasan itu sendiri. Cagar alam : daerah perlindungan bagi kelestarian hidup jenis tumbuhan dan binatang (flora dan fauna) yang terdapat didalamnya dan dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan. Carrying Capacity : ukuran kemampuan suatu lingkungan mendukung sejumlah kumpulan atau populasi jenis makhluk hidup tertentu untuk dapat hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Catchment area : daerah yang perlu dilindungi keberadaannya karena merupakan daerah yang difungsikan sebagai penyimpan cadangan air tanah. Misalnya Daerah Aliran Sungai (DAS). Coalification : proses pembentukan lapisan batubara. Conifer : vegetasi berdaun jarum. Degradasi Lingkungan : tanda-tanda telah dilampauinya daya dukung lingkungan. Demografi : ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk. Dependency Ratio : angka ketergantungan yang dihitung dengan membandingkan jumlah penduduk usia non produktif dengan jumlah penduduk usia produktif dalam suatu kawasan (region) tertentu. Detritivor : organisme heterotrof yang memakan partikel-partikel organik atau remukan jaringan organik yang telah membusuk. Dinamika penduduk : bertambah banyak atau berkurangnya jumlah penduduk dari waktu ke waktu. Domestifikasi : usaha manusia berupa penjinakkan dan pemeliharaan tumbuhan dan hewan liar. Drainase : sistem pengaliran atau pembuangan air dalam suatu wilayah. Ekologi : ilmu tentang hubungan timbal-balik antara makhluk hidup dengan kondisi alam sekitarnya. Ekosistem : suatu sistem yang meliputi komponen tumbuh-tumbuhan, hewan, dan lingkungan fisik tempat hidupnya. Eksploitasi : proses pengambilan sumberdaya alam hayati atau sumberdaya alam nonhayati dari bumi. Eksplorasi : penelitian dan pengkajian terhadap suatu daerah yang belum dikenal untuk memperoleh data yang diperlukan. Ekstensifikasi : upaya peningkatan produksi pertanian dengan menambah luas lahan yang telah ada. Erosi : proses pengikisan batuan penyusun permukaan bumi oleh tenaga air, angin, atau gletser. Eucaliptus : sejenis pohon dan tumbuhan yang senantiasa hijau (pada umumnya terdapat di daerah Australia). Fauna : keseluruhan kehidupan hewan suatu habitat, daerah, atau strata geologi tertentu atau dunia hewan. Fertilisasi : kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan keturunan atau tungkai kesuburan. Fertilitas : gambaran mengenai jumlah tingkat kelahiran hidup dalam periode waktu tertentu. Flora : keseluruhan kehidupan jenis tumbuh-tumbuhan suatu habitat, daerah (strata geologi) atau alam tumbuh-tumbuhan. Garis Wallace : garis yang membatasi fauna Indonesia bagian barat dan fauna Indonesia bagian tengah. Garis Weber : garis yang membatasi fauna Indonesia bagian timur dan fauna Indonesia bagian tengah. Gradien thermometrik : suatu kondisi wilayah yang berhubungan dengan keadaan suhu. Suhu udara akan mengalami penurunan sekitar 0,5-0,6 derajat celsius. Habitat : bagian yang lebih kecil dari bioma yang merupakan tempat berlangsungnya kehidupan organisme. Heterotrof : organisme yang tidak mampu membuat makanannya sendiri. Higrophyta : jenis-jenis tumbuhan yang sangat sesuai hidup di daerah yang basah. Hutan : suatu wilayah yang secara alamiah ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan, baik yang bersifat homogen yaitu didominasi oleh satu jenis flora, seperti hutan mangrove, muson, atau konifer, maupun yang sifatnya heterogen dengan beraneka jenis spesies, seperti hutan hujan tropis. Hutan Lindung : kawasan hutan yang digunakan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, erosi, dan memelihara kesuburan tanah. Imigrasi : pindahnya penduduk dari suatu tempat ke tempat lain. Industri : semua kegiatan ekonomi manusia yang mengolah barang mentah atau bahan baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sehingga lebih tinggi nilai kegunaanya. Infant mortality rate : angka yang menunjukkan dan memberikan gambaran mengenai jumlah bayi meninggal dunia dari seribu bayi yang lahir hidup pada periode tahun tertentu. Intensifikasi : upaya meningkatkan sesuatu hingga mencapai hasil optimal melalui kegiatan secara sungguh-sungguh dan terus-menerus. Isobath : garis-garis di peta yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki kedalaman laut yang sama. Kelembapan Udara : banyaknya uap air yang terkandung dalam udara. Kepadatan penduduk : jumlah rata-rata penduduk persatuan luas tanah dalam suatu kawasan atau region tertentu. Komposisi penduduk : kondisi yang menggambarkan struktur penduduk dalam suatu wilayah berdasarkan atribut-atribut tertentu yang telah ditentukan. Konservasi : suatu upaya yang dilakukan melalui cara pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan dan melalui tindakan pelestarian. Kualitas Penduduk : aspek demografis yang harus diperhitungkan dalam mengkaji sumberdaya manusia adalah potensi dan kekuatan yang dimiliki sekelompok manusia dalam masyarakat. Lingkungan hidup : kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Maturity : proses pematangan batuan induk. Mekanisasi : upaya peningkatan produksi pertanian dengan mengaplikasikan teknologi pertanian berupa mesin-mesin pertanian yang modern dan tepat guna. Mesophyta : jenis-jenis tumbuhan yang sangat cocok hidup di lingkungan yang lembap, tetapi tidak basah. Migrasi : perpindahan penduduk dari suatu wilayah menuju wilayah lainnya dengan maksud dan tujuan untuk menetap. Mineral : benda padat homogen bersifat anorganik yang terbentuk secara alamiah dan memiliki komposisi kimia tertentu dan jumlahnya cukup banyak, seperti tembaga, emas, intan, dan barang tambang lainnya. Mobilitas : gerak perubahan yang terjadi di antara warga masyarakat baik secara fisik maupun sosial. Moor : bentang wilayah yang ditutupi oleh semak-semak yang rapat. Tumbuhan penutup tanah utama pada kawasan moor adalah belukar. Mortalitas : angka yang menunjukkan dan memberi gambaran mengenai jumlah penduduk yang meninggal dunia pada waktu tertentu. Nekton : kelompok hewan laut yang berenang. Nisia (Niche) : status fungsional suatu organisme dalam suatu ekosistem. Observasi : kegiatan pengamatan pendahuluan tentang daerah persebaran suatu jenis barang tambang, sekaligus menyelidiki dan memeriksa kebenarannya secara teoritis yang berkaitan dengan kondisi geologis di lapangan. Pelestarian sumberdaya : tindakan yang dilakukan dengan cara menggunakan sumberdaya alam secara arif dan bijaksana dengan memerhatikan unsur waktu dan keterbatasan sumberdaya alam yang tersedia. Pembangunan berkelanjutan : upaya sadar dan terencana yang memadukan unsur lingkungan hidup, untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup saat ini dan generasi yang akan datang. Penambangan : usaha yang dilakukan sebagai bentuk upaya eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam yang terkandung di alam sebagai potensi bagi kehidupan manusia. Pencemaran : suatu proses, cara, atau perbuatan yang dilakukan untuk mencemari atau mencemarkan lingkungan sekitar sebagai habitat makhluk hidup dengan bahan polutan (pencemar). Penduduk : sejumlah orang baik secara individu maupun kelompok yang menempati wilayah atau negara tertentu minimal satu tahun pada saat dilaksanakan pendataan atau sensus penduduk. Penduduk : orang atau orang-orang yang mendiami suatu tempat dan tercatat sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku di tempat itu. Pertanian ladang : jenis usaha pertanian yang memanfaatkan lahan kering, artinya dalam pengolahan pertanian tidak banyak memerlukan air. Pertumbuhan eksponensial : kondisi pertumbuhan jumlah penduduk yang bersifat langsung dan terjadi secara terus menerus. Pertumbuhan geometri : kondisi pertumbuhan jumlah penduduk yang terjadi secara bertahap dalam suatu wilayah. Pertumbuhan penduduk : kenaikan atau penurunan jumlah penduduk yang diakibatkan oleh selisih jumlah kelahiran dan kematian. Pertumbuhan Penduduk total : merupakan kenaikan atau penurunan jumlah penduduk yang diakibatkan oleh selisih jumlah kelahiran dan kematian. Piramida penduduk : suatu gambaran mengenai struktur penduduk berdasarkan umur penduduk dan jenis kelamin dalam suatu wilayah (region) tertentu. Plankton : organisme kecil yang hidup terapung-apung di permukaan atau dekat permukaan laut. Polutan : suatu zat atau bahan pencemar yang mengakibatkan terjadinya polusi atau pencemaran. Populasi : bagian dari kelompok-kelompok organisme yang terdiri atas individu-individu yang tergolong sejenis dalam suatu lingkungan hidup. Rantai Makanan : peristiwa makan dan dimakan pada suatu urutan tertentu. Registrasi : proses pengumpulan keterangan yang berhubungan dengan peristiwa kependudukan harian dan kejadian yang mengubah status seseorang. Rehabilitasi : upaya pengembalian tingkat kesuburan tanah yang sudah kurang produktif. Reservoir : proses migrasi minyak bumi dari batuan induk ke batuan sarang. Sabana : padang rumput yang diselilingi pepohonannya terdapat di padang pasir atau gurun pasir. Sensus : proses pencatatan, perhitungan, dan publikasi data demografis yang dilakukan terhadap semua penduduk yang tinggal di suatu wilayah atau negara tertentu. Sensus de facto : proses pencacahan penduduk yang dilaksanakan terhadap semua orang yang ditemui oleh petugas ketika dilaksanakan sensus. Sensus de jure : proses pencacahan penduduk yang dilaksanakan terhadap semua orang yang benar-benar tercatat dan bertempat tinggal di suatu wilayah, umumnya sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk. Sex Ratio : rasio penduduk menurut jenis kelamin , yaitu perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan. Source Rock : proses pengendapan batuan induk pembentuk minyak bumi. Stepa : bentang alam yang terdiri atas tanah datar yang kering dan luas. Pada setiap wilayahnya ditumbuhi dengan belukar (rumput-rumputan pendek) berupa padang rumput yang luas. Suaka Margasatwa : kawasan hutan yang dilindungi oleh undang-undang sebagai wilayah untuk menjaga kelestarian beberapa jenis fauna langka atau yang hampir punah. Sumberdaya : bagian dari unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumberdaya manusia, sumberdaya alam hayati, sumberdaya alam nonhayati, dan sumberdaya buatan. Sumberdaya Alam : unsur-unsur lingkungan alam yang diperlukan manusia untuk memenuhi kebutuhan serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Survei : proses pencacahan terhadap beberapa sampel penduduk pada beberapa wilayah yang dapat mewakili karakter wilayah secara keseluruhan. Taiga : suatu bentang alam yang terdiri atas jenis tanaman berdaun jarum (konifer) terdapat di antara daerah tundra di utara dan stepa di selatan. Taman Nasional : suatu kawasan konservasi yang dikelola secara terpadu dalam arti semua tujuan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan dapat ditampung dalam suatu kesatuan atau unit pengelolaan. Taman nasional menempati suatu daerah yang luas dan tidak boleh ada rumah tinggal maupun bangunan industri. Tegalan : usaha pertanian yang dilakukan dengan membuka lahan dan memanfaatkan air hujan. Trapping : proses pemerangkapan minyak bumi. Tropophyta : jenis-jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi terhadap daerah yang mengalami perubahan musim hujan dan musim kemarau. tumbuh jarang yang diselingi oleh semak belukar. Tumpang gilir : sistem peragaman jenis tanaman pertanian dengan sistem rotasi, seperti padi-palawija-padi. Tumpangsari : cara bercocok tanam dengan menanam dua jenis tanaman atau lebih secara serentak dengan membentuk barisan-barisan lurus untuk tanaman yang ditanam secara berseling pada satu bidang tanah. Tundra : daerah beku dan tandus di kutub utara, dimana tumbuhan tidak dapat hidup dan pada umumnya hanya berupa padang rumput. Urbanisasi : perpindahan penduduk secara berduyun-duyun dari desa (kota kecil) ke kota besar sebagai pusat pemerintahan, atau perubahan sifat suatu tempat dari suasana desa ke suasana kota. Varietas : kelompok tanaman dalam jenis atau spesies tertentu yang dapat dibedakan dari kelompok lain berdasarkan suatu sifat-sifat tertentu. Xerophyta : jenis tumbuhan yang sangat tahan terhadap lingkungan hidup yang kering atau gersang (kelembapan udara sangat rendah). Jenis tanamannya antara lain kaktus, dan beberapa jenis rumput gurun.

0 comments:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!